In Memoriam Seorang Narapidana

Berbagi Berita !

Hal Yang Dialami menjelang meninggalnya saudara kita, Ahbab Alm. Hamka

Hamka alias Oje adalah seorang narapidana dari Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Polewali yang saat terakhirnya sedang menjalani asimilasi kerja sosial di Yayasan Muttaqin Polewali sebagai syarat menjalani Pembebasan Bersyaratnya (PB). Kasus yang menyebabkannya masuk Lapas adalah Narkoba.

Alm. di vonis 5 tahun 3 bulan. Sudah dijalani selama sekitar 4 tahun.
Alm. meninggal dunia pada hari Sabtu, 16 Februari 2019 sekitar jam 05.45 wita.

SEHARI MENJELANG WAFATNYA HAMKA

1. Hal Yang Dialami Isterinya :

Pada hari Jumat, 15 Februari 2019, seperti biasa Hamka berangkat assimilasi di Masjid Muttaqin, ada kesempatan menengok isterinya yang biasa bekerja di pasar, Alm. ikrom kepada isterinya. Alm. menyiapkan makan dan menyajikannya utk isteri tercintanya sampai isterinya merasa heran kenapa suaminya baik sekali. Biasanya kalau ada kesempatan suami menengoknya, pasti isteri yang melayaninya. Mulai menyajikan makanan hingga minuman disediakan Alm.

Isterinya merasa kikuk, sungkan gak enak hati. Walau dilarang melayani, tapi tetap menyajikannya hingga makan ditemani sang isteri. Itu saat terindah yang dia rasakan sebagai seorang isteri, sambil berlinang air mata. Lalu Hamkapun pamit mau sholat Jumat di masjid Merdeka Wonomulyo dekat rumah Alm.

2. Hal Yang Dialami dari Ustadz pembimbing di Masjid Muttaqin.
Saat, kembali di masjid Muttaqin dia belajar seperti biasa bersama santri-santri cilik, sampai tiba sholat Ashar. Saat selesai sholat Ashar, Hamka ditemui Ustadz Farid yang merupakan amir (pemimpin ustadz pendamping narapidana yang assimilasi). Beliau bertanya,

“Hamka, sholat jumat dimana, ki..?, setiap ketemu, kamu minta saya khotib di Lapas, begita ada kesempatan saya khotib di sana, kamu malah gak ada..!”

Hamka merasa sangat menyesal, Ustadz pembimbing yang ditunggu selama ini, ia gak bisa mendengarkan khotbahnya. Dia katakan,

“Maaf, ustadz. Saya gak tahu kalau ada jadwal ustadz, saya tadi sholat di Wonomulyo. Masjid Raya Merdeka”

Jawabnya sambil merasa menyesal karena sangat pengin melihat khotbah beliau di Lapas.

Seperti biasa selepas Ashar ada program silaturahmi dilanjutkan musyawarah. Materi musyawarah sore itu di antaranya adanya niat mewujudkan sedekah sebagai ungkapan syukur telah dibimbing oleh para ustadz di Masjid Muttaqin, khikmat (memberi makan) kepada para santri di pondok. Mereka, 3 narapidana yang assimilasi rupanya sudah mempersiapkan. Kambing sudah dibeli, beras sudah dibeli tinggal beli sayur pelengkap saja. Ustadz Farid diminta untuk menjembatani, minta ijin kepada kalapas pada hari Sabtu, 16 pebruari 2019. SubhanAlloh, semoga niat baik alm. diterima Alloh Swt. Menurut ustadz Faridz, Hamka itu orangnya rajin, pendiam, giat, selalu tersenyum, gak pernah marah.

3. Hal Yang Dialami Narapidana sekamarnya.

Salah satu teman sekamarnya yang menyaksikan saat menjelang Hamka tak sadarkan diri,

Hamka pada saat itu melihat kaligrafi yang menggantung di tembok, berlafadz arab La ilaha IllAlloh, karya temannya yang terletak persis di hadapannya saat Hamka mau tidur.”

Tiba-tiba saja tanpa sebab tanpa mengeluh, terus tegang shok tak sadarkan diri setelah membaca lafadz tersebut.
Seketika itu seluruh warga binaan teriak minta tolong sambil mengguncang-guncangkan terali besi. Singkat waktu semua serba kebetulan, mungkin sudah dalam skenaria Alloh swt. Perawat malam itu ada di kantor, saya sendiri (Haryoto) juga ada di kantor menemani para petugas jaga. Setelah perawat mengukur tensi yang ternyata sangat tinggi 190/120, meminta kepada saya utk dilarikan ke RSUD Polewali Mandar.

4.Hal Yang Saya Alami.

Saya menjadi saksi, selama menjadi pembinanya, Hamka orang yang kalem, pendiam. Keluar 3 hari khuruj fi sabilillah, kali pertama bagi Hamka membuat Hamka menjadi warga yang sangat taat beribadah, tambah sabar, tambah tenang, merasa ada keinginan keluar fi sabilillah lagi. Program ishlah diri khuruj fi sabilillah di Lapas Polewali dilaksanakan bekerja sama dengan Yayasan Muttaqin. Bagi narapidana yang menjelang PB, CB diberi kesempatan khuruj fi sabilillah selama 3 hari dengan dikawal petugas dan juga ustadz pembimbing. Semoga program ini Alloh mudahkan agar terus berjalan, aamiin. Mohon doanya, teman-teman.

Pada pagi harinya bakda shubuh, saya diberitahu bahwa Hamka akhirnya wafat. Setelah di CTSCAN harus mendapat perawatan di ICU, namun sayang, ruang ICUpun penuh, akhirnya diberi tindakan medis tapi di ruang UGD. Takdir maut kasih sayang Alloh menjemputnya pada pukul 05.45 wita.
Hamka meninggal dalam kondisi terkesan bahagia, dia tersenyum manis, seakan mengerti jalan kembali yang akan dia lalui.

Selamat jalan saudaraku, anak didikku, santriku, Hamka. Memang engkau berlabel Narapidana, tapi engkau orang yang saya yakini mulia di sisiNya. Belum tentu saya meninggal dalam keadaan tersenyum manis seperti senyummu. Semoga Alloh menyambutmu dengan senyum bahagia. Kita yang bukan narapidana, belum tentu dapat khusnul khotimah, tapi engkau telah menunjukkan hal itu walau sebutanmu Narapidana.
Jannatul Firdaus ya Alloh… berikan kepada saudaraku Hamka alias Oje. Aamiin.

Haryoto, S.Sos

Kalapas Polewali

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close