Relawan Demokrasi KPU Polman Sosialisasi Pemilu Serentak 2019 Bagi WBP Lapas Polewali

Polewali Mandar- Pemilihan Umum Serentak tahun 2019 sudah tinggal menghitung hari lagi. Perhelatan sebagai wujud pesta demokrasi ini akan berlangsung 17 April mendatang. Komisi Penyelenggara Pemilu (KPU) sebagai lembaga yang menyelenggarakan pemilihan umum ini terus melakukan persiapan. Termasuk untuk mensosialisasikan tata cara pemilihan nantinya.

Persiapan juga dilakukan pada Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Polewali untuk menyambut perhelatan sekali dalam lima tahun tersebut. Setelah sebelumnya intens berkomunikasi dengan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Polman untuk melengkapi administrasi warga binaan pemasyarakatn seperti e-KTP, hari ini WBP juga dibekali pendidikan dan penyadaran pemilih dari KPU Polman. Bertempat di Mesjid Lapas Polewali seluruh WBP hadir dan mendengarkan penjelasan setelah ibadah shalat dhuzur. (21/02/2019)

Sosialisasi Pendidikan dan Penyadaran Pemilih guna menyongsong Pemilu Serentak 2019 ini mengahadirkan Relawan Demokrasi KPU Polman sebagai penyaji. Materi yang disampaikan seputaran pengenalan jenis surat suara yang digunakan nantinya.

“Terdapat 5 jenis surat suara nantinya yang akan digunakan, surat suara berwarna hijau untuk DPRD Kab./Kota, surat suara DPRD Provinsi, surat suara kuning untuk DPR-RI, surat suara merah untuk DPD-RI dan surat suara abu-abu untuk Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden.” Ungkap Darmawansyah pemateri dari Relawan Demokrasi KPU.

Sementara itu Kasi Bimnadik Lapas Polewali, Baharuddin, S.Pd yang hadir langsung memamntau jalannya sosialisasi didampingi Kasubsi Registrasi, Asriani Darmawan, S.Pd.I mengungkapkan agar seluruh WBP menggunakan hak pilihnya pada 17 April mendatang.

“Terima kasih untuk teman-teman Relasi (Relawan Demokrasi) KPU yang hadir untuk memberikan pemahaman lebih buat WBP kami, dan tentunya buat seluruh WBP untuk menggunakan hak pilihnya pada 17 April mendatang. Oleh sebab itu waktu yang ada kita gunakan untuk melengkapi syarat administratif guna menyambut Pemilu 2019 ini.” Terang Asriani, Kasubsi Registrasi Lapas Polewali.

Peningkatan partisipasi pemilu pada suatu Pemilihan Umum, merupakan salah satu tolak ukur keberhasilan Pemilu dilaksanakan pada suatu daerah. Sebagaimna dalam target KPU RI untuk masing-masing KPU kapubaten se-Indonesia agar mencapai 77,5% partisipasi pemilih pada Pemilu serentak 2019 ini. Target tersebut sebetulnya tidak muluk-muluk sebab KPU Kabupaten Polewali Mandar sendiri mencapai 74,5% partisipasi pemilih pada Pemilihan sebelumnya. Sehingga hadirnya sosialisasi ini pada Lapas Polewali dapat membantu meningkatkan angka partisipasi pemilih pada Pemilu Serentak 2019.

Lapas Polewali sendiri saat inu memiliki kurang lebih 300 WBP yang terdaftar sebagai DPTb (Daftar Pemilih Tambahan) KPU Polman. Dan angka tersebut dipastikan akan berubah mengingat keluar-masuknya Tahanan dan Narapidana Lapas Polewali. Hal ini yang tentunya membuat KPU Polman dan Lapas Polewali terus melakukan koordinasu guna memastikan seluruh WBP mendapatkan hak pilihnya pada 17 April mendatang.

In Memoriam Seorang Narapidana

Hal Yang Dialami menjelang meninggalnya saudara kita, Ahbab Alm. Hamka

Hamka alias Oje adalah seorang narapidana dari Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Polewali yang saat terakhirnya sedang menjalani asimilasi kerja sosial di Yayasan Muttaqin Polewali sebagai syarat menjalani Pembebasan Bersyaratnya (PB). Kasus yang menyebabkannya masuk Lapas adalah Narkoba.

Alm. di vonis 5 tahun 3 bulan. Sudah dijalani selama sekitar 4 tahun.
Alm. meninggal dunia pada hari Sabtu, 16 Februari 2019 sekitar jam 05.45 wita.

SEHARI MENJELANG WAFATNYA HAMKA

1. Hal Yang Dialami Isterinya :

Pada hari Jumat, 15 Februari 2019, seperti biasa Hamka berangkat assimilasi di Masjid Muttaqin, ada kesempatan menengok isterinya yang biasa bekerja di pasar, Alm. ikrom kepada isterinya. Alm. menyiapkan makan dan menyajikannya utk isteri tercintanya sampai isterinya merasa heran kenapa suaminya baik sekali. Biasanya kalau ada kesempatan suami menengoknya, pasti isteri yang melayaninya. Mulai menyajikan makanan hingga minuman disediakan Alm.

Isterinya merasa kikuk, sungkan gak enak hati. Walau dilarang melayani, tapi tetap menyajikannya hingga makan ditemani sang isteri. Itu saat terindah yang dia rasakan sebagai seorang isteri, sambil berlinang air mata. Lalu Hamkapun pamit mau sholat Jumat di masjid Merdeka Wonomulyo dekat rumah Alm.

2. Hal Yang Dialami dari Ustadz pembimbing di Masjid Muttaqin.
Saat, kembali di masjid Muttaqin dia belajar seperti biasa bersama santri-santri cilik, sampai tiba sholat Ashar. Saat selesai sholat Ashar, Hamka ditemui Ustadz Farid yang merupakan amir (pemimpin ustadz pendamping narapidana yang assimilasi). Beliau bertanya,

“Hamka, sholat jumat dimana, ki..?, setiap ketemu, kamu minta saya khotib di Lapas, begita ada kesempatan saya khotib di sana, kamu malah gak ada..!”

Hamka merasa sangat menyesal, Ustadz pembimbing yang ditunggu selama ini, ia gak bisa mendengarkan khotbahnya. Dia katakan,

“Maaf, ustadz. Saya gak tahu kalau ada jadwal ustadz, saya tadi sholat di Wonomulyo. Masjid Raya Merdeka”

Jawabnya sambil merasa menyesal karena sangat pengin melihat khotbah beliau di Lapas.

Seperti biasa selepas Ashar ada program silaturahmi dilanjutkan musyawarah. Materi musyawarah sore itu di antaranya adanya niat mewujudkan sedekah sebagai ungkapan syukur telah dibimbing oleh para ustadz di Masjid Muttaqin, khikmat (memberi makan) kepada para santri di pondok. Mereka, 3 narapidana yang assimilasi rupanya sudah mempersiapkan. Kambing sudah dibeli, beras sudah dibeli tinggal beli sayur pelengkap saja. Ustadz Farid diminta untuk menjembatani, minta ijin kepada kalapas pada hari Sabtu, 16 pebruari 2019. SubhanAlloh, semoga niat baik alm. diterima Alloh Swt. Menurut ustadz Faridz, Hamka itu orangnya rajin, pendiam, giat, selalu tersenyum, gak pernah marah.

3. Hal Yang Dialami Narapidana sekamarnya.

Salah satu teman sekamarnya yang menyaksikan saat menjelang Hamka tak sadarkan diri,

Hamka pada saat itu melihat kaligrafi yang menggantung di tembok, berlafadz arab La ilaha IllAlloh, karya temannya yang terletak persis di hadapannya saat Hamka mau tidur.”

Tiba-tiba saja tanpa sebab tanpa mengeluh, terus tegang shok tak sadarkan diri setelah membaca lafadz tersebut.
Seketika itu seluruh warga binaan teriak minta tolong sambil mengguncang-guncangkan terali besi. Singkat waktu semua serba kebetulan, mungkin sudah dalam skenaria Alloh swt. Perawat malam itu ada di kantor, saya sendiri (Haryoto) juga ada di kantor menemani para petugas jaga. Setelah perawat mengukur tensi yang ternyata sangat tinggi 190/120, meminta kepada saya utk dilarikan ke RSUD Polewali Mandar.

4.Hal Yang Saya Alami.

Saya menjadi saksi, selama menjadi pembinanya, Hamka orang yang kalem, pendiam. Keluar 3 hari khuruj fi sabilillah, kali pertama bagi Hamka membuat Hamka menjadi warga yang sangat taat beribadah, tambah sabar, tambah tenang, merasa ada keinginan keluar fi sabilillah lagi. Program ishlah diri khuruj fi sabilillah di Lapas Polewali dilaksanakan bekerja sama dengan Yayasan Muttaqin. Bagi narapidana yang menjelang PB, CB diberi kesempatan khuruj fi sabilillah selama 3 hari dengan dikawal petugas dan juga ustadz pembimbing. Semoga program ini Alloh mudahkan agar terus berjalan, aamiin. Mohon doanya, teman-teman.

Pada pagi harinya bakda shubuh, saya diberitahu bahwa Hamka akhirnya wafat. Setelah di CTSCAN harus mendapat perawatan di ICU, namun sayang, ruang ICUpun penuh, akhirnya diberi tindakan medis tapi di ruang UGD. Takdir maut kasih sayang Alloh menjemputnya pada pukul 05.45 wita.
Hamka meninggal dalam kondisi terkesan bahagia, dia tersenyum manis, seakan mengerti jalan kembali yang akan dia lalui.

Selamat jalan saudaraku, anak didikku, santriku, Hamka. Memang engkau berlabel Narapidana, tapi engkau orang yang saya yakini mulia di sisiNya. Belum tentu saya meninggal dalam keadaan tersenyum manis seperti senyummu. Semoga Alloh menyambutmu dengan senyum bahagia. Kita yang bukan narapidana, belum tentu dapat khusnul khotimah, tapi engkau telah menunjukkan hal itu walau sebutanmu Narapidana.
Jannatul Firdaus ya Alloh… berikan kepada saudaraku Hamka alias Oje. Aamiin.

Haryoto, S.Sos

Kalapas Polewali

PRESS RELEASE : Kronologi Meninggalnya Hamka, Napi Lapas Polewali

Polewali Mandar- Berita duka datang dari Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Polewali, Narapidana Kasus Narkotika atas nama Hamka Alias Oje meninggal dunia setelah dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah Polewali Mandar. Hamka dinyatakan meninggal dunia pada pukul 05:45 Wita Sabtu Dinihari. (16/02/2019)

“Yang bersangkutan merupakan penghuni di blok Melati. WBP tersebut merupakan Narapidana Kasus Narkotika dengan pidana 5 tahun dan 3 bulan penjara serta denda Rp. 1.000.000.000,- subsider 3 bulan penjara. Namun sepanjang menjalani masa pidana di Lapas Polewali, yang bersangkutan tidak pernah mengeluh sakit dan tidak memiliki riwayat sakit.” Ujar Kasubsi Registrasi, Asriani Darmawan, S.Pd.I

Adapun kronologi kejadian tersebut, pada sekitar pukul 22.05 wita, terdengar suara minta tolong dari Blok Melati untuk dibuka karena ada yang sakit. Kemudian pukul 22.08, Petugas Perawat Lapas Polewali langsung menangani WBP yang sakit tersebut. Dan diketahui bahwa tensi Hamka ternyata 190/120 serta kondisi kesadaran menurun sebab tidak ada respon saat dicubit.

Sekitar pukul 22.20 wita Napi tersebut dikeluarkan dari Lapas Polewali dan dilarikan ke RSUD Kabupaten Polewali Mandar dan langsung ditangani oleh tim dokter di Unit Gawat Darurat. Pihak keluarga Hamka yang dihubungi seketika, tiba di RSUD pada pukul 23.30 wita dan ikut menjaga pemeriksaan dokter.

Atas saran dokter yang menangani dan persetujuan dari pihak keluarga, Hamka akhirnya di CT Scan pada pukul 01.30 wita. Dan hasilnya terdapat pembuluh darah yang pecah. Musyawarah yang dilakukan antara pihak Lapas dan keluarga Hamka memutuskan untuk dimasukkan ke ruang ICU pada pukul 02.00 wita. Namun karena ruang ICU penuh, maka Hamka tetap di ruang UGD namun mendapatkan tindakan medis.

Pada pukul 05.45 wita, Pasien WBP atas nama Hamka dinyatakan meninggal dunia. Dan guna keperluan kelengkapan laporan yang bersangkutan diambil sidik jarinya pada pukul 06.30 wita.

Keluarga yang mendampingi proses medis Hamka, bisa menerima atas musibah yang dialami. Atas permintaan keluarga pula jenazah Hamka langsung dibawa ke kediamannya dan diizinkan untuk tidak dibawa ke Lapas Polewali. Penyerahan jenazah dan barang Hamka Alias Oje dilaksanakan di rumah duka (Wonomulyo) pada Sabtu, 16 Februari 2019 pukul 12.00 Wita.

Kepala Lapas Polewali yang hadir langsung pada saat di Rumah Sakit dan di rumah duka mengaku prosedur yang dilakukan untuk Napi tersebut sudah sesuai dengan aturan yang ada. Beliau menambahkan bahwa Hamka saat ini sementara menjalani masa asimilasi.

“WBP atas nama Hamka Alias Oje saat ini sementara menjalani masa asimilasi di Yayasan Al-Muttaqqin Polewali Mandar sebagai syarat menjalani Pembebasan Bersyarat. Duka yang mendalam saya ucapkan kepada keluarga yang ditinggalkan.” Ujar Haryoto, S.Sos.

Warga Binaan Lapas Polewali yang bergama Islam setelah mendengar kabar meninggalnya Hamka melaksanakan sholat ghoib pada ba’da Dzuhur di Mesjid Lapas Polewali.